kalender 2012

KARYA DOSEN

selamat datang di UNIVET VETERAN BANTARA SUKOHARJO

Jumat, 27 April 2012

Lagu Dolanan


REAKTUALISASI TEMBANG  DOLANAN  JAWA
DALAM RANGKA PEMBENTUKAN KARAKTER  BANGSA
 (KAJIAN SEMIOTIK)

Dr. Farida Nugrahani, M.Hum
Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
Jl. S. Humardani No. 1 Jombor Sukoharjo Surakarta, Ponsel: 081226229733
E-mail: farida_nugrahani@yahoo.com.





I. Pendahuluan

Kemajuan ipteks dewasa ini terlihat tidak lagi berkorelasi positif bahkan berbanding terbalik dengan tingginya perilaku menyimpang yang merupakan pelanggaran etika sosial masyarakat, dan tata karma pergaulan yang bersumber pada nila-nilai luhur budaya bangsa.  Perilaku menyimpang yang banyak dijumpai di tengah-tengah masyarakat antara lain maraknya  tindakan anarkis dan main hakim sendiri, merajalelanya praktik korupsi, lumrahnya perilaku asusila, dan pelanggaran etika --yang lebih sederhana-- yaitu ketidaksantunan dalam berbahasa.  
Dari berbagai pelanggaran etika sosial masyarakat tersebut, semakin mempertegas dugaan bahwa bangsa ini telah mulai kehilangan jati diri, yang ditandai dengan bergesernya nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan serta kemampuan masyarakat dalam pengendalian diri dan membina kebersamaan. Masyarakat mulai mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang dalam berinteraksi dan bersosialilasi dengan lingkungannya.  Disinyalir hal itu merupakan dampak dari ketidaksiapan masyarakat ketika harus berhadapan dengan era global dengan perkembangan peradaban yang semakin kompleks (Nugrahani, 2008:16).
Spradley (2007:15) menyampaikan bahwa dalam perkembangan peradaban dunia yang semakin maju, seseorang dapat mengalami peristiwa ’kebanjiran budaya’ (culturally overnhelmed) yaitu munculnya  pengaruh dari dua budaya atau lebih sekaligus, atau bersama-sama. Dalam kasus ini, bagi generasi muda yang belum menguasai budayanya sendiri, sementara sudah harus berhadapan dengan  pengaruh  berbagai budaya asing ---sebagai dampak dari canggihnya teknologi informasi---, maka mereka akan  mengalami kebingungan. Dalam dirinya belum terbentuk filter yang mampu membedakan budaya yang baik, dan cocok bagi dirinya.  Akibatnya, dengan mudah seseorang (utamanya generasi muda) akan mengalami peristiwa ketercerabutan budaya sehingga menciptakan budayanya sendiri. Hal itu terjadi   karena selain tidak lagi mengenal budaya asli nenek moyangnya, juga belum mampu ’memilih dan memilah’, mana budaya yang baik sesuai karakter bangsanya.  
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai moral (akhlak) yang digariskan dalam ajaran agama dewasa ini mulai diabaikan atau (sengaja) dikaburkan. Nilai-nilai kesantunan dan budi pekerti luhur yang diwariskan nenek moyang juga semakin memudar, bahkan menjadi asing di negeri sendiri. Sementara itu, para pemimpin bangsa yang seharusnya berperan sebagai contoh ‘panutan’ juga tidak lagi mampu menempatkan dirinya dengan benar (Nugrahani, 2011:2). Bila demikian keadaannya, kemana karakter bangsa ini akan berpijak? Bagaimana pembentukan karakter generasi muda dapat dilakukan? Pertanyaan besar itulah yang perlu mendapatkan jawabannya, bila bangsa ini ingin tetap eksis sebagai bangsa yang memiliki jatidiri dan karakter yang  kuat dalam percaturan dunia.
Stereotipe bangsa Indonesia sebagai bangsa Timur yang ramah, santun, andhap-asor, lembah-manah, suka bergotong royong, dan religius, yang selama ini selalu dibangga-banggakan sebagai pembanding kontras dengan ciri kepribadian bangsa Barat yang serba bebas, individualis, sekuler, materialis dan kapitalis, tampaknya tinggalah mitos belaka.
Menurut Poernomosidi (2006:1) kebiasaan latah masyarakat Indonesia yang suka meninggalkan budayanya sendiri dan lebih tertarik mengikuti arus budaya global secara primordial tidak hanya menimpa pada generasi muda saja, tetapi juga pada seluruh generasi bangsa. Oleh sebab itu secara nasional karakter bangsa ini dalam pertaruhan yang membawanya ke dalam kondisi kritis. 
Melunturnya kebanggaan masyarakat terhadap budayanya sendiri mengakibatkan terputusnya estafet pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi penerusnya. Hal ini  merupakan masalah besar yang tidak boleh dibiarkan. Segala upaya dari sejak dini perlu dilakukan, agar generasi penerus bangsa dapat tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik dan terpuji.  Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain pembiasaan anak untuk bermain dan menyanyikan lagu-lagu (tembang) dolanan Jawa, yang banyak mengandung nilai-nilai didaktis yang bersumber pada filsafat budaya Jawa yang adiluhung,  yang mengajarkan  nila-nilai kebaikan, dan akhlak/budi pekerti luhur dan mulia.
Berkaitan dengan upaya pembentukan karakter bangsa itulah, maka disampaikan hasil penelitian ini, yang membahas tentang “Reaktualisasi Tembang Dolanan  Jawa dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa (Kajian Semiotik).” Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsilan (1) makna  tembang  dolanan Jawa; (2)  nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tembang dolanan Jawa; dan (3) pentingnya reaktualisasi tembang dolanan Jawa dalam pembentukan karakter bangsa. Melalui hasil penelitian yang sedehana ini diharapkan dapat ditemukan alternatif solusi dalam upaya pembentukan karakter generasi muda (Jawa) sebagai penerus cita-cita bangsa (Indonesia), sebagaimana konsep pendidikan karakter yang sedang digalakkan oleh pemerintah dewasa ini.

II.  Metode Penelitian

            Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Alasannya, karena metode ini (1) mampu menggambarkan proses dari waktu ke waktu dalam situasi yang alami tanpa rekayasa peneliti; (2) memungkinkan untuk dilakukan analisis induktif, yang berorientasi pada eksplorasi, penemuan dan logika induktif, sehingga teori yang dihasilkan didasarkan pada pola dalam kenyataannya; dan (3) memungkinkan pendeskripsian perilaku manusia dalam konteks natural (Sutopo, 2003:2).
                   Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik kajian pustaka (content analysis), wawancara mendalam (in-depth interviewing), dan observasi (observation).  Kajian pustaka dilakukan dengan sumber data teks/dokumen yang berkaitan dengan tembang dolanan Jawa dan budaya Jawa pada umumnya. Wawancara mendalam dilakukan dengan narasumber (informant) para pakar budaya Jawa, sesepuh dan pinisepuh, serta  generasi muda (etnis Jawa) dan guru bahasa Jawa. Sementara itu, observasi dilakukan dengan sumber data aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat (Jawa) dalam kondisi yang alami, tanpa rekayasa peneliti.  
              Validitas data penelitian ini diuji melalui trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Trianggulasi sumber ditempuh melalui wawancara mendalam kepada para informant dari status dan peran yang berbeda. Trianggulasi metode ditempuh dengan cara menggali data yang sejenis dengan metode yang berbeda (Sutopo, 2002: 80).  Data yang diperoleh melalui wawancara dibandingkan dengan hasil pengamatan tentang aktivitas subjek yang menggambarkan perilakunya  melalui observasi. Sementara itu, reliabilitas data diwujudkan melalui pelaksanaan penelitian yang dapat diinterpretasikan dengan hasil yang sama (Yin, 2000:38). Reliabilitas data diusahakan untuk meminimalkan kekhilafan (error) dan penyimpangan (bias) dalam penelitian.
              Analisis data penelitian ini dilakukan di lapangan bersama dengan proses pengumpulan data.  Pada waktu data dikumpulkan, proses analisis dimulai dengan penyusunan refleksi peneliti, yang merupakan kerangka berpikir, gagasan, dan kepedulian peneliti terhadap data yang ditemukan (Bodgan & Biklen, 1982:84-89). Analisisnya dilakukan secara interaktif, dalam bentuk siklus. Setiap data yang diperoleh dikomparasikan dengan data lain secara berkelanjutan, dengan model analisis interaktif. Komponennya meliputi reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi (Miles & Huberman, 1984:23). Ketiganya dilakukan ketika proses pengumpulan data berlangsung, seperti dalam gambar berikut.



Components of Data Analysis: Interactive Model
              Selanjutnya untuk pemaknaan tembang dolanan Jawa digunakan metode pembacaan model semiotik yang terdiri atas pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Riffaterre, 1978:39). Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang cermat dalam tataran satuan linguistik pada teks tembang dolanan Jawa. Adapun pembacaan hermeneutik adalah pembacaan bolak-balik antara teks tembang dolanan  Jawa dengan referensi di luar teks atau realitas sosial budaya masyarakat Jawa yang menjadi latar social dalam tembang dolanan Jawa tersebut.

III.   Hasil Penelitian dan Pembahasan


A.  Makna  Tembang  Dolanan Jawa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) tembang diartikan sebagai ragam suara yang berirama. Irama tersebut berupa rangkaian tangga nada yang tersusun secara urut dan harmonis sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang mengandung unsur-unsur keindahan atau estetik. Dalam istilah bahasa Jawa tembang berarti lagu Tembang juga disebut dengan istilah sekar, sebab tembang memang berasal  dari kata kembang yang mempunyai persamaan makna dengan kata sekar, atau bunga.
Tembang sebagai ekspresi estetik mengandung ciri-ciri utama seperti: bersifat kontemplatif-transedental, bersifat simbolik, dan bermakna filosofis. Sebagai ekspresi esetik, tembang dapat menimbulkan multitafsir, karena merupakan bagian dari karya sastra yang bersifat  multiinterpretable. Pemaknaannya bergantung pada horison harapan pembacanya (Jauss, 1974).  
Dalam masyarakat Jawa tembang sudah ada sejak semula, bahkan sebagian besar warisan budaya nenek moyang (Jawa) dikemas dalam bentuk kidung atau tembang. Salah satu warisan budaya yang dahulu digemari oleh anak-anak (Jawa) adalah tembang dolananTembang dolanan  ini bukan hanya berfungsi sebagai lagu yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak ketika bermain dan bersosialisasi dengan lingkungannya, atau lagu sekedar hiburan semata-mata. Lebih dari itu tembang dolanan merupakan karya seni yang  sangat menarik karena di dalamnya terkandung makna yang tersirat, berisi pesan-pesan moral yang penting sebagai pembentuk karakter yang baik bagi anak bangsaMakna yang dimaksud antara lain adalah pesan moral kepada anak-anak untuk memiliki sikap dan kepribadian yang religius, mengutamakan kebersamaan dan keselarasan dalam berhubungan dengan orang lain. Tidak malas atau sombong, rukun dengan sesama, dan senang membantu orang lain.  

B.       Nilai Local Wisdom dalam Tembang Dolanan Jawa sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

              Ada sembilan pilar karakter, yang penting untuk ditanamkan dalam pembentukan kepribadian anak.  Berbagai pilar karakter tersebut sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur universal, meliputi: (1) cinta kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, (3) kejujuran, (4) hormat dan sopan santun, (5)  kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama, (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan  (Megawangi dalam Indrawati-Rudy, 2010:717).  Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung  dalam tembang dolanan Jawa itu, perlu dikembangkan dalam pendidikan karakter bagi generasi muda penerus bangsa.
              Berikut ini disampaikan beberapa nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tersirat di dalam tembang dolanan Jawa.

(1)                ILIR-ILIR

Lir ilir, lir ilir, tanduré wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temantèn anyar
Cah angon, cah angon, pènèkna blimbing kuwi
Lunyu lunyu yo pènèken kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana j’rumatana kanggo séba mengko soré
Mumpung padhang rembulané, mumpung jembar kalangané.
Yo surako surak hiyo.
(Bangunlah, bangunlah! tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu!
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak dibagian samping
Jahitlah,  benahilah! untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Bersoraklah dengan sorakan Iya!)
            Syair tembang dolanan yang berjudul “Ilir-Ilir mengandung pesan moral yang sarat dengan nilai-nilai religius, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja keras, dan pantang menyerah.  Tembang  tersebut menyiratkan pesan bahwa kita sebagai umat manusia diminta untuk mampu bangkit (bangun) dari keterpurukan, dengan mempertebal iman dan berjuang demi mendapatkan kebahagiaan (sebagaimana pasangan pengantin baru). Buah belimbing yang dipetik si anak gembala (dengan susah payah) itu merupakan ibarat dari perintah Allah untuk melaksanakan sholat lima waktu. Meskipun berat (banyak rintangan) dalam menjalankannya (diibaratkan pakaiannya sampai terkoyak sobek), harus tetap dikerjakan. Dengan senantiasa taat menjalankan perintah Allah, terbuka harapan bagi umat manusia untuk memperbaiki diri agar nanti siap ketika waktunya tiba untuk menghadap, memenuhi panggilan Illahi.
       
(2)                 SLUKU-SLUKU BATOK

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si Rama menyang Sala, oleh-olehe payung motha
Mak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah, nek urip goleka dhuwit.

(Ayun-ayun kepala, kepalanya geleng geleng
Si bapak pergi ke Sala, oleh-olehnya payung mutha
Secara tiba-tiba begerak, orang mati tidak bergerak
Kalau bergerak menakuti orang, kalau hidup carilah uang)

Tembang Sluku-Sluku Bathok” mengajarkan kepada kita nilai-nilai untuk cinta kepada Tuhan dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan yang dijalani, kedisiplinan, serta kemandirian dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Makna yang tersirat dalam tembang tersebut bahwa manusia hendaklah senantiasa membersihkan batinnya dengan berdzikir atau mengingat Asma Allah dengan menggeleng-gelengkan kapala (ela-elo) dengan mengucapkan “Laa illa ha illallah” (=tidak ada Tuhan selain Allah) baik pada saat gembira maupun sedih, baik ketika mendapatkan kenikmatan maupun musibah. Semuanya dilakukan atas kesadaran bahwa hidup dan mati manusia ada di tangan Allah semata. Ketika masih berkesempatan hidup, hendaklah rajin beribadah dan mencari nafkah atas ridha Allah, karena ketika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya, kita tidak lagi mampu melakukan apa pun.

(3)   PADHANG BULAN

Yo prakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan padhangé kaya rina
Rembulané kang ngawé-awé
Ngélikaké aja turu soré-soré

(Ayo teman-teman bermain diluar
Cahaya bulan yang terang benderang
Rembulan yang seakan-akan melambaikan tangan
Mengingatkan kepada kita untuk tidak tidur  sore-sore)

Tembang dolanan yang berjudul “Padang Bulan” itu mengajarkan kepada kita untuk cinta kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya sebagai ciptaan-Nya. Selain itu tembang dolanan Jawa tersebut juga mengajarkan sifat kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan terhadap sesama manusia. Syair dalam tembang dolanan tersebut mengandung pesan hendaknya manusia bersyukur kepada Allah Swt. dengan  menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Untuk menunjukkan rasa syukur itu kita diharapkan tidak hanya menghabiskan waktu malam untuk tidur (terlalu awal), namun sebaiknya memanfaatkan waktu untuk bersilaturrahim, dan  dan juga melaksanakan ibadah (shalat malam) kepada Allah Swt.

(4)     JARANAN

Jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei, sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung, prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing, prok prok gedebug jedher

(Berkuda, berkuda, kudanya teji (tinggi besar)
yang naik Tuan Bei, yang mengiring para menteri
Jeg-jeg nong, jeg-jeg gung, prok prok menyusuri jalanan
Gedebug krincing gedebug krincing, prok prok gedebug jedher)

Tembang dolanan  “Jaranan” mengajarkan nilai-nilai untuk hormat dan santun kepada atasan, orang yang lebih tua, atau berkedudukan lebih tinggi. Selain itu juga mengajarkan sifat kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama dengan orang lain.  Syair dalam tembang tersebut menyiratkan pesan akan pentingnya kebersamaan, karena pada dasarnya manusia itu saling membutuhkan. Orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi membutuhkan orang yang lebih rendah, demikian pula sebaliknya. Bagi yang berkedudukan tinggi (ndara Bei) membutuhkan pengawalan bawahannya (para menteri) dalam menjalankan tugasnya.  Sementara itu, bagi yang mempunyai kedudukan lebih rendah harus menghormati orang yang berkedudukan lebih tinggi. Ndara Bei merupakan perlambang orang yang berkedudukan tinggi dan/atau keturunan ningrat yang berpunya (kaya) karena tunggangan-nya (hewan sebagai kendaraan) adalah kuda yang tinggi besar (jaran teji) sehingga berjalannya pun harus diiringi oleh  bawahannya (para menteri). 

(5)   MENTHOK-MENTHOKMenthok-menthok tak kandhani, mung solahmu angisin-isini
Bokya aja ndheprok, ana kandhang wae
Enak-enak ngorok, ora nyambut gawe
Menthok-menthok, mung lakumu megal-megol gawe guyu

(Menthok-menthok aku nasehati,  perilakumu memalukan
Jangan hanya diam dan duduk, di kandang saja
Enak-enak mendengkur, tidak bekerja
Menthok-menthok, jalanmu meggoyangkan pantat membuat orang  tertawa)

Syair tembang dolanan ‘Menthok-Menthok’ mengandung makna bahwa seseorang itu perlu memiliki sikap rendah hati, dan mau instrospeksi diri. Sebagai umat manusia kita tidak boleh sombong, dan harus tetap menghargai orang lain. Sebab, semua ciptaan Allah memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ibarat ‘menthok’, binatang yang penampilannya jelek, tidak menarik, suka tidur, dan malas-malasan pun masih bermanfaat bagi orang lain, karena  mampu membuat orang lain tertawa atas kelucuan tingkahnya. Karena itu, sebaiknya kita jangan segan untuk melihat kekurangan diri sendiri dan tidak  mudah merendahkan orang lain atas kekurangannya.  Tembang ini juga menyampaikan pesan bahwa sebaiknya kita tidak bermalas-malasan (banyak tidur), karena itu bukan sifat yang baik.

(6)   GUNDHUL PACUL
Gundhul gundhul pacul cul, gemblèlengan
nyunggi nyunggi wakul kul, gemblèlengan
wakul ngglimpang, segané dadi sak ratan
wakul ngglimpang, segané dadi sak rattan

(Kepala botak tanpa rambut ibarat cangkul, besar kepala (sombong, angkuh)
membawa bakul, dengan gayanya yang besar kepala (sombong, angkuh)
bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan (tidak bermanfaat lagi)

Syair tembang dolanan “Gundul-Gundul Pacul” menggambarkan sifat seorang anak yang berpenampilan jelek, sombong (gemblelengan), dan berperilaku tidak bertanggung jawab. Dari sifat dan perilakunya yang buruk itu, telah menyebabkan dirinya tidak mampu  bekerja dengan baik, sehingga melakukan hal yang sia-sia (tidak bermanfaat). Tembang itu mengandung pesan bahwa menjadi orang tidak boleh merasa dirinya paling pintar, paling hebat, sehingga membuatnya bersikap sombong, serta ceroboh. Sifat yang demikian itu hanya akan menyebabkan kegagalan, dan kesia-siaan, sebab orang yang sombong, serta ceroboh tidak akan mampu mengemban amanah yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik. 

(7)   DHONDHONG APA SALAK
Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Andhong apa mbecak, mlaku dimik-dimik

(Buah) kedondong apa (buah) salak, (buah) duku kecil-kecil
Naik delman apa naik becak, jalan kaki pelan-pelan

Syair tembang dolanan “Dhondhong Apa Salak” ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik, dan tidak menyakiti orang lain baik secara lahir maupun batin. Selain itu mengajarkan untuk memiliki sifat kemandirian, tidak senang bergantung pada bantuan orang lain, bagaimanapun lemahnya kemampuan kita.
Dari berbagai pesan yang disampaikan dalam tembang dolanan Jawa yang telah diuraikan di atas, dapat disampaikan bahwa tembang dolanan Jawa pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) bahasanya sederhana, (2) mengandung nilai-nilai estetis, (3) jumlah barisnya terbatas, (4) berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak, (5) lirik dalam lagu dolanan menyiratkan makna religius, kebersamaan, kemandirian, tanggung jawab, rendah hati, dan nilai-nilai sosial lainnya. Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, tidak diragukan lagi apabila  tembang dolanan Jawa itu pantas untuk dikonsumsi anak-anak, karena banyak nilai-nilai positifnya. Secara umum  dapat disampaikan bahwa semua tembang dolanan tersebut mengarah pada aspek cerminan pandangan, falsafah hidup, dan nilai moral yang dibangun dalam masyarakat Jawa, yang pantas untuk digunakan sebagai pembentuk karakter generasi muda (Jawa) penerus bangsa.


C.    Reaktualisasi Tembang Dolanan Jawa dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa  Melalui  Pembelajaran Bahasa Jawa (Muatan Lokal) di Sekolah
Indonesia merupakan negara besar yang memiliki berbagai suku bangsa dengan keragaman budaya tradisinya.  Berbagai macam budaya tradisi yang dimiliki itu merupakan suatu kebanggaan dan aset kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Sebagai warga bangsa yang bangga terhadap kebudayaannya, sudah selayaknya apabila selalu berupaya  untuk ikut menjaga dan mempertahankan budayanya, karena kekayaan budaya  itu merupakan identitas suatu bangsa, dalam mengekspresikan jati dirinya.
Dewasa ini, perubahan dan perkembangan  zaman berlangsung dengan pesat,  terutama ditandai dengan semakin canggihnya teknologi informasi berbasis  komputer sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dan interaksi antarmasyarakat dunia. Di satu sisi teknologi canggih itu telah memberikan manfaat dan banyak kemudahan yang luar biasa kepada semua orang yang memanfaatkannya. Namun di sisi lain, proses interaksi antarbangsa di dunia itu juga berdampak negatif utamanya bagi terkikisnya kebudayaan tradisi, sebagai warisan nenek moyang yang menyimpan nilai-nilai luhur budaya suatu bangsa. Kebudayaan tradisi yang terancam oleh budaya global dan dikhawatirkan mencapai kepunahan, antara lain adalah: bahasa daerah, adat-istiadat, dan berbagai macam kesenian daerah (dalam konteks ini, adalah tembang  dolanan Jawa).
Tembang dolanan  Jawa itu merupakan salah satu sarana komunikasi dan sosialisasi anak-anak (Jawa) dengan lingkungannyaMelalui tembang dolanan itu, anak-anak dapat bergembira, bermain dan bersenang-senang dalam mengisi waktu luang. Tembang dolanan  merupakan suatu  hal yang menarik bagi anak.  Meskipun sarat dengan pesan moral yang mendidik, tembang dolanan  Jawa disampaikan dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dihafal dan dicerna sesuai dengan tingkat kematangan psikologis atau perkembangan jiwa anak  yang masih suka bermain. Pesan atau ajaran-ajaran dan nilai-nilai moral budi pekerti dalam tembang dolanan tersebut, disampaikan melalui perumpamaan-perumpamaan dan analogi, yang dikemas dalam bahasa yang sederhana namun tetap indah (estetis).
Patut disayangkan karena dewasa ini tembang dolanan sudah jarang didendangkan ketika anak-anak (Jawa) bermain dengan sebayanya. Mereka, (utamanya) yang tinggal di perkotaan  lebih cenderung untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu atau bahasa pengantar sehari-hari.  Akibatnya mereka kurang mengenal bahasa Jawa, dan tentunya juga kurang akrab dengan budaya Jawa, termasuk tembang dolanan Jawa yang merupakan salah satu bagian dari seni budaya tradisi warisan nenek moyangnya. 
Menurut  Soetomo (2000:27) sistem budaya terdiri atas empat kelompok lambang, yakni (1) konstitusi (keagamaan/kepercayaan); (2) kognisi (ilmu pengetahuan); (3) evaluasi (etika); dan (4) ekspresi (estetika). Sistem budaya dapat diturunkan atau diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, apabila terdapat alat komunikasi antarmanusia, dan antargenerasi, yakni bahasa.
Fungsi bahasa selain sebagai sarana pengembangan kebudayaan juga penerus kebudayaan.  Bahasa dan kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak terpisahkan dari eksistensinya sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu terlibat dengan bahasa, karena bahasa merupakan alat komunikasi utama dengan orang lain. Demikian pula halnya dengan kebudayaan, ia merupakan bagian dari hidup manusia yang tidak terpisahkan.  Di mana ada manusia di sana ada kebudayaan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kebudayaan, sebaliknya tidak ada kebudayaan yang lahir tanpa manusia,  karena kebudayaan merupakan pengetahuan yang diperoleh dan digunakan untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial bagi masyarakat  pemiliknya (Spradley, 2007:5).
Dari uraian yang disampaikan, dapat digarisbawahi bahwa pelestarian tembang dolanan Jawa sangat penting bagi generasi penerus bangsa. Namun demikian kendala utamanya adalah telah tergesernya kedudukan dan fungsi bahasa daerah (Jawa) oleh bahasa nasional (Indonesia). Kini generasi muda (Jawa) mayoritas tidak lagi mengenal bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Fungsi bahasa daerah (Jawa) telah tergantikan oleh bahasa Indonesia. Padahal menurut teori, sulit bagi seseorang untuk memahami budaya tanpa mengenal bahasanya, seperti pendapat Linguis besar Wilhelm von Humbolt (1835) dan Antoine Meilet (1857), bahwa begitu dekatnya hubungan antara budaya dan bahasa, sehingga budaya itu tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak tergantung pada masyarakat tempat bahasa itu digunakan (language est eminemment un fait social). Bahasa merupakan cermin budaya masyarakat pemakainya, oleh sebab itu penting sekali untuk tetap mempertahankan bahasa daerah (Jawa) sebagai bahasa Ibu, dalam rangka pelestarian  budaya (termasuk tembang dolanan Jawa)  sebagai aset kekayaan budaya bangsa.
Melalui pembelajaran  Bahasa Jawa dengan materi tembang dolanan Jawa  diharapkan usaha pelestarian budaya tradisional Jawa dapat berlangsung dengan baik. Melalui bimbingan gurunya dalam pembelajaran  Bahasa Jawa, anak-anak dapat mengapresiasi tembang dolanan Jawa  yang sarat akan nilai-nilai luhur sebagai pembentuk karakternya. Dengan demikian, pada akhirnya diharapkan bahwa melalui pembelajaran  yang dilaksanakan anak-anak dapat tumbuh menjadi manusia yang berbudaya, mandiri, mampu mengaktualisasikan diri dengan potensinya, mengekspresikan pikiran dan perasaannya, memiliki wawasan yang luas, mampu berpikir  kritis, dan berkarakter kuat, sehingga peka terhadap masalah sosial pada bangsanya.
      
IV Simpulan

            Berdasarkan analisis nilai-nilai dalam tembang dolanan Jawa di atas dapat dikemukakan simpulan sebagai berikut.
            Pertamatembang dolanan Jawa bukan hanya lagu biasa yang berfungsi sebagai  hiburan untuk dinyanyikan oleh anak-anak ketika bermain dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Lebih dari itu tembang dolanan merupakan karya seni yang  menarik karena di dalamnya tersirat makna yang penting bagi hidupan manusia. Tembang dolanan Jawa berisi pesan-pesan moral yang  sesuai bagi pembentukan karakter atau budi pekerti luhur bagi anak bangsaMakna yang dimaksud antara lain adalah pesan moral kepada anak-anak untuk memiliki sikap dan kepribadian yang religius, mengutamakan kebersamaan dan keselarasan dalam berhubungan dengan orang lain, tidak memiliki sifat sombong, mawas diri,   dan dapat menghargai orang lain.
              Kedua, nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tembang dolanan Jawa pada dasarnya  sejalan dengan sembilan pilar karakter yang mengandung nilai-nilai luhur universal. Sembilan pilar karakter tersebut adalah (1) cinta kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, (3) kejujuran, (4) hormat dan sopan santun, (5)  kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama, (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan. Nilai-nilai luhur universal yang terdapat dalam tembang dolanan Jawa, yang sesuai dengan Sembilan pilar karakter itu perlu dikembangkan dalam pembentukan  karakter generasi muda penerus bangsa.
Ketiga,  mengingat tembang dolanan Jawa yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan pesan-pesan moral, maka tembang dolanan Jawa itu dipandang perlu untuk diaktualisasikan dalam kehidupan generasi muda. Terlebih jika dikaitkan dengan pendidikan karakter bangsa yang saat ini sedang digalakkan oleh seluruh komponen bangsa. Melalui pembelajaran  Bahasa Jawa dengan materi apresiasi tembang dolanan Jawa diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang berbudaya, mandiri, mampu mengaktualisasikan diri dengan potensinya, mengekspresikan pikiran dan perasaannya, memiliki wawasan yang luas, mampu berpikir  kritis, berkarakter kuat, sehingga peka terhadap masalah sosial pada bangsanya. 
             

DAFTAR PUSTAKA

Bogdan, Robert C. & Sari Knopp Biklen. 1982. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Jauss, Hans Robert. 1974. “Literary History as a Challenge to literary Theory” dalam             Rapl Cohen (ed).  New Directions in Literary. London:  Routdlege  &  Kegankaul

Kartini, Yuyun. 2010. “Tembang Dolanan Anak-Anak Berbahasa Jawa Sumber Pembentukan Watak dan Budi Pekerti”.  dalamHttp://Kentruk.Com/?P=286april 22nd, 2010. (Diakses 8 Februari 2012)

Miles, M.B. & Huberman, A.M. 1984. Qualitative Data Analysis: A  Sourcebook of New Methods. Beverly Hills: Sage Publication.
Nugrahani, Farida. 2008. Reaktualisai Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural” dalam  Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Mulyana (Ed). Yogyakarta:  Tiara Wacana.
-------. 2011. “Penanaman Nilai-Nilai Kearifan Lokal  Melalui  Pembelajaran “Unggah-Ungguhing Basa” dalam Upaya Pembentukan Karakter Generasi Muda”. dalam Proseding Seminar Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Universitas Muhammadiyah Malang, 30 April 2011.
Poernomosidi, Begug. 2006. “Nilai-nilai Budaya Jawa dan Pembangunan Karakter Bangsa”. Makalah dalam Seminar Nasional Pembangunan Karakter Generasi Muda di PBSJ FKIP Universitas Veteran bangun Nusantara Sukoharjo.

Riffaterre, Michael. 1978.  Semiotics of Poetry. London: Indiana of University Press.
Rudy, Rita Indrawati.  2010. Ideosinkrasi Pendidikan Karakter Melalui Bahasa dan Sastra. Jakarta: Jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FPBS Universitas Negeri Jakarta dan Kepel Yogyakarta. 
Soetomo, Istiati. 2000. “Ilmu-ilmu antar-Bidang untuk Sosilolinguistik Abad  Mendatang” Pidato  Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Sastra  Universitas  Diponegoro Semarang.
Spradley,  James. P. 2007.  The Etnographic Interview.  (Edisi  terjemahan  Misbah Zulfa Eliza).Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Sutopo, H.B. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret   Press.
Yin, Robert K. 2000. Case Study Research: Design and Methods (Studi Kasus: Desain dan Metode). Terjemahan M. Djauzi Mudzakir. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


BIODATA

Penulis adalah dosen Kopertis Wilayah VI Jateng Dpk di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Lahir di Boyolali, 11 Juni 1964. Lulus S1 Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNS tahun 1988. Tahun 2000 mendapatkan gelar Magister Humaniora dan tahun 2008 mendapat gelar Doktor Ilmu Linguistik dengan predikat Cumlaude pada universitas yang sama. Penulis aktif dalam kegiatan ilmiah, baik seminar, penelitian,  maupun menulis karya ilmiah dalam berbagai jurnal. Penulis juga aktif menjadi peserta dalam pertemuan ilmiah yang diselenggarakan HISKI, MLI, dan PIBSI.  Saat ini penulis dipercaya sebagai Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Univet. Selain itu juga sebagai Ketua HISKI Komisariat Univet, Ketua Redaksi Jurnal Ilmiah Stilistika dan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Pascasarjana UNS.  Penulis  juga tercatat sebagai asesor dan instruktur dalam sertifikasi guru Rayon 141 Surakarta. Buku yang telah diterbitkan antara lain: (1) Metode Penulisan Karya Ilmiah (Pilar Media, Yogyakarta, 2007); (2) Metode Penelitian Sastra (Pilar Media, Yogyakarta, 2008); (3) Reaktualisai Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural” dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Mulyana (Ed) (Tiara Wacana, Yogyakarta, 2008). (4) Metode Penelitian Kualitatif (Sebelas Maret University Press, 2010). 



www.veteranbantara.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger